
Jakarta Barat – Upaya memperkuat pelestarian sejarah dan meningkatkan kualitas pengelolaan koleksi museum terus dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal tersebut ditandai dengan pelaksanaan rapat koordinasi Revitalisasi Storage Museum Sejarah Jakarta Kota Tua, yang berlangsung di Ruang Rapat Museum Fatahillah, Jalan Taman Fatahillah No. 1, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, Rabu (29/7/2026).
Rapat dimulai pukul 09.00 WIB dan dipimpin oleh Kepala Unit Pengelola Museum Kesejarahan Fatahillah Kota Tua Provinsi DKI Jakarta, Ibu Retno Ayati. Kegiatan tersebut menjadi forum koordinasi lintas instansi untuk memastikan rencana revitalisasi berjalan sesuai tahapan, target waktu, serta memperhatikan aspek keamanan selama proses pembangunan.
Rapat dihadiri perwakilan dari berbagai unsur, di antaranya Danramil 01/Taman Sari yang diwakili Babinsa Pinangsia Sertu Aprianto, Kapolsek Metro Taman Sari yang diwakili Bripda Arif, Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Guntara Hilman, Kasudin Bina Marga Kecamatan Taman Sari Gerhard, Kasatpel Perhubungan Taman Sari Rizal, perwakilan Satpol PP Taman Sari Jaka, perwakilan UPK Kota Tua Tito, perwakilan Kecamatan Taman Sari Erick, serta perwakilan Kelurahan Pinangsia Sujito.

Dalam rapat tersebut dijelaskan bahwa revitalisasi Storage Museum Sejarah Jakarta dilaksanakan melalui sejumlah tahapan. Pada tahap pra-konstruksi Juni hingga September 2026, kegiatan meliputi persiapan dokumen, proses tender, pemindahan sementara koleksi museum, hingga pembongkaran gedung eksisting.
Selanjutnya, tahap konstruksi direncanakan berlangsung Agustus hingga Desember 2026, dengan lingkup pekerjaan meliputi struktur dan pekerjaan sipil, pembangunan arsitektur bangunan dua lantai, pekerjaan mekanikal, elektrikal dan plumbing (MEP), serta pekerjaan interior.
Pekerjaan konstruksi direncanakan mulai 7 Agustus 2026 dengan jangka waktu 135 hari kalender.
Setelah tahap konstruksi selesai, akan dilaksanakan proses serah terima pada Desember 2026, yang meliputi uji fungsi atau commissioning test, pelatihan teknis bagi teknisi internal, serta Serah Terima Pertama (PHO).
Sementara itu, tahap pasca-konstruksi dijadwalkan Januari hingga Juni 2027, meliputi masa pemeliharaan selama 180 hari kalender serta audit hasil pekerjaan.
Untuk menunjang proses revitalisasi, sejumlah peralatan utama juga telah direncanakan digunakan, antara lain excavator untuk pekerjaan tanah dan pembongkaran, mobile crane untuk pengangkatan komponen struktur baja, alat bor Strauss Pile untuk pekerjaan pondasi, genset silent sebagai sumber listrik sementara, electric bar cutter dan electric bar bender untuk pekerjaan struktur beton bertulang, serta mobil pick up untuk mobilisasi material dan pembuangan material sisa bongkaran.

Dalam rapat tersebut juga ditekankan pentingnya dukungan tiga pilar, yakni unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah, dalam menunjang kelancaran pembangunan, menjaga keamanan lingkungan sekitar proyek, serta memastikan kegiatan revitalisasi dapat berjalan sesuai target.
Danramil 01/Taman Sari Mayor Inf Manatap Rajagukguk, S.E., M.H., M.M., menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung pelaksanaan revitalisasi dengan mengedepankan koordinasi dan sinergi lintas sektor.
“Revitalisasi Storage Museum Sejarah Jakarta merupakan bagian penting dari upaya menjaga dan merawat warisan sejarah. Kami dari Koramil 01/Taman Sari siap mendukung melalui koordinasi dengan seluruh unsur terkait, khususnya dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama proses pekerjaan berlangsung. Sinergi tiga pilar sangat diperlukan agar pembangunan berjalan aman, lancar, dan sesuai dengan target yang telah direncanakan,” ujar Mayor Inf Manatap Rajagukguk.
Ia menambahkan, koordinasi sejak tahap awal menjadi langkah penting untuk mengantisipasi berbagai potensi kendala di lapangan, terlebih lokasi revitalisasi berada di kawasan Kota Tua yang memiliki aktivitas masyarakat dan wisatawan cukup tinggi.
Dengan revitalisasi tersebut, Storage Museum Sejarah Jakarta diharapkan dapat memiliki fasilitas yang lebih representatif, mendukung sistem penyimpanan dan pengelolaan koleksi secara lebih baik, serta semakin memperkuat Kota Tua Jakarta sebagai kawasan sejarah dan kebudayaan yang memiliki nilai penting bagi generasi mendatang.
Rapat koordinasi berakhir pada pukul 11.00 WIB dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif.
(M.Solichin)









