TEWENEWS, Muara Teweh – Dihadapan puluhan kepala desa dan Damang serta mantir adat, managemen PT Indexim Utama dan PT Sindo Lumber, pemegang Perijinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) menyosialisasikan rencana kerja tahunan (RKT) tahun 2026 yang dilaksanakan di Aula GH Senyiur Muara Teweh, Rabu (4/3/2026).
Kegiatan sosialisasi ini dibuka secara resmi oleh Camat Gunung Purei dan dihadiri Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Wakapolsek Gunung Bintang Awai, Kapolsek Gunung Purei, Danramil Gunung Purei, para kepala desa, Damang serta mantir adat sekitar areal perusahaan dan undangan lainnya.
General Manager PT Indexim Utama, H Supri Muyono mengatakan, kegiatan ini bertujuan agar masyarakat mengetahui bahwa kami (perusahaan, red) mempunyai rencana kerja di tahun ini, dengan posisi yang telah ditentukan serta jumlah yang mau ditebang.
“Lalu, apa kewajiban-kewajiban kami terhadap negara ini kita sampaikan. Sehingga masyarakat juga tahu bahwa kami sedang melaksanakan kegiatan rencana kegiatan tahun 2026,” terangnya kepada sejumlah wartawan, usai kegiatan sosialisasi, Rabu (4/3).
Sosialisasi ini untuk memberikan gambaran utuh mengenai arah kebijakan dan teknis operasional perusahaan selama satu tahun ke depan. Begitu juga bentuk keterbukaan perusahaan kepada pemangku kepentingan, terutama masyarakat lokal.
Supri juga merinci target produksi yang selaras dengan luas wilayah konsesi kedua perusahaan. Dimana PT Indexim Utama dengan luas areal 52.000 hektare dengan target produksi 52.000 meter kubik.
Sementara itu, PT Sindo Lumber dengan luas areal 36.000 hektare target produksinya 36.000 meter kubik. “Jadi targetnya sama dengan luasanya,” terangnya.
Rencana kerja ini mendapat respon positif dari desa-desa di Barito Utara dan Barito Selatan. Masyarakat menyatakan dukungan penuh agar operasional kedua perusahaan tetap berjalan, mengingat adanya harapan besar terhadap dampak ekonomi positif bagi warga sekitar.
“Tujuannya agar ada sinergi. Masyarakat memahami pola kerja kita sehingga tidak ada saling mengganggu. Perusahaan mengelola hutan, dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan bisa ikut merasakan manfaatnya,” tutur Supri.
Menanggapi isu keterlibatan tenaga kerja, Supri menjelaskan komitmen perusahaan terhadap penyerapan SDM lokal, namun tetap mengedepankan profesionalisme. Bahkan ia menyebut saat ini, tercatat sekitar 80% karyawan merupakan putra daerah.
“Perusahaan selalu menerapkan prinsip profesional tidak memandang SARA, tetapi memandang kepentingan. Kalau seumpama semuanya non profesional minta dipekerjakan lalu produktivitas turun kan tidak bisa membawa hasil, jadi kalau kita perlu orang mekanik ya harus orang mekanik dan tidak mungkin kita memasukan anak SMA yang non pengalaman. Jadi kami selalu berkomitmen merekrut siapa saja yang berkompeten menjadi karyawan,” tandasnya. (AP)









