(Ambin Demokrasi)
Oleh: Noorhalis Majid
TEWENEWS – Orang bijak mengatakan, hidup harus seimbang. Apapun alasannya, keseimbangan diperlukan agar kehidupan tetap berjalan.
Bukan hanya soal keseimbangan dunia dan akhirat yang diajarkan agama-agama, namun juga dalam segala praktik kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, harus pula seimbang. Eksploitasi, mesti seimbang dengan reboisasi. Jumlah kendaraan yang dijual tiap hari, harus seimbang dengan panjang dan lebar jalan yang dibangun tiap tahun. Pun pertambahan jumlah penduduk akibat kelahiran dan migrasi, harus seimbang dengan kesempatan lapangan pekerjaan, perluasan hunian dan luas lahan pertanian. Sedikit saja keseimbangan terganggu akan bermasalah.
Dan memang, berbagai masalah sekarang terus bermunculan akibat ketidakseimbangan. Lingkungan yang diekspolitasi berbuah bencana. Kemacetan menyebabkan ekonomi biaya tinggi, menghambat produktifas. Begitu pula ketidakseimbangan penduduk dengan lapangan pekerjaan, hunian dan pertanian, melahirkan problem sosial yang rumit lagi tidak sederhana.
Ketidakseimbangan, dalam bahasa Banjar disebut “singgang”. Kata ini sudah jarang digunakan, padahal maknanya sangat komprehensif. Kalau dalam satu mesin produksi yang terdiri dari berbagai komponen dan elemen, yang bekerja saling terkait satu sama lainnya. Bila ada satu saja tidak berfungsi, jalan mesin tersebut akan singgang. Tubuh juga begitu, kalau ada satu bagian sedang sakit atau terluka, maka tubuh pun akan singgang.
Dalam hidup ini, terutama hubungan dengan Tuhan, manusia dan alam, harus seimbang. Kalau manusia merasa lebih dominan dan penting, merasa sebagai pusat dari sistem alam semester, sehingga berlaku semaunya terhadap alam yang oleh ahli disebut antroposentris, maka pastilah keseimbangan terganggu. Alam tidak dipandang sebagai sesuatu yang memiliki nilai pada diri sendiri, melainkan dipandang berdasarkan kegunaannya semata. Akhirnya keharmonisan terganggu, melahirkan prilaku eksploitatif.
Singgang, mengakibatkan tidak nyaman, mengganggu proses dan pada akhirnya harus mencari tahu dimana ketidak seimbangan itu terjadi. Bila ditemukan penyebanya, segera diperbaiki, agar kembali normal, berjalan sebagaimana mestinya.
Sering kali, penyebabnya sudah diketahui, namun tidak punya keinginan untuk memperbaiki. Dibiarkan sesinggang-singgangnya, sampai singgang itu sendiri disangka normal. Bencana terjadi berulang kali, dianggap sebagai satu kenormalan. Macet padat merayap, satu kenormalan. Dan penghidupan ekonomi “sakit pada kayap”, juga satu kenormalan. Akhirnya, tidak tahu lagi apakah keadaan ini singgang atau kada? Mungkin perlu bantuan orang lain untuk menilainya? Sebab, jangan-jangan sejak dari pikiran memang sudah singgang? (nm)









