TEWENEWS, Barito Timur – Menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang tinggal menghitung hari, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Timur, H. Ahmadi, S.Ag., MAP mengajak umat Islam, khususnya di Kabupaten Barito Timur, untuk tetap menjaga persatuan dan saling menghormati apabila terjadi perbedaan dalam penentuan hari raya.
Hal tersebut disampaikannya pada Kamis (12/03/2026). Ia menjelaskan bahwa kemungkinan perbedaan terjadi karena adanya perbedaan metode penetapan awal bulan Syawal.
“Muhammadiyah memulai puasanya satu hari lebih awal dibanding keputusan pemerintah, yaitu pada tanggal 18 Februari, sementara pemerintah menetapkan awal puasa pada 19 Februari. Jadi kemungkinan besar jika Idul Fitri jatuh pada 20 Maret 2026, maka Muhammadiyah telah berpuasa selama 30 hari, sedangkan pemerintah 29 hari,” ujar Ahmadi.
Ia menjelaskan, pemerintah nantinya akan menunggu hasil Sidang Isbat untuk menentukan awal bulan Syawal. Dalam sidang tersebut akan dilihat apakah hilal atau bulan baru dapat terlihat atau tidak.
Menurutnya, apabila dalam Sidang Isbat hilal tidak terlihat karena faktor cuaca atau tidak ada saksi yang dapat memastikan melihat hilal di seluruh wilayah Indonesia, maka pemerintah akan menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari.
“Kalau pemerintah memutuskan Ramadan menjadi 30 hari, maka otomatis kemungkinan ada perbedaan hari raya dengan Muhammadiyah. Namun yang diharapkan sebenarnya, walaupun awal puasanya berbeda, mudah-mudahan hari rayanya bisa bersamaan,” jelasnya.
Meski demikian, Ahmadi menegaskan bahwa perbedaan tersebut bukanlah persoalan besar, karena masyarakat pada umumnya sudah memahami bahwa perbedaan penentuan hari raya merupakan hal yang biasa terjadi.
Ia pun mengimbau agar masyarakat tetap menjaga toleransi dan saling menghormati apabila nantinya terdapat perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri.
“Kita berharap masyarakat bisa saling menghormati dan menjaga toleransi. Jadikan perbedaan ini sebagai rahmat bagi umat, bukan sebagai alasan untuk saling memperdebatkan,” pungkasnya. (Ahmad Fahrizali)









